sepertinya sudah keinginan dari ayah dan mama agar anak-anaknya merantau dan keluar dari comfort zone kami. ya benar comfort zone! zona yang benar-benar nyaman saat semua yang kami butuhkan sudah orang tua kami sediakan dan berada di samping mereka setiap saat. zona itu sangat-sangat nyaman, setidaknya bisa dengan sempurna aku rasakan sampai bangku SMA, setelah itu ??? aku harus survive dan keep holding on in my own feet.
Malang dan Wanita Tangguhku.
berpindah ke Kota Malang untuk menuntut ilmu. beradaptasi dengan lingkungan baru,menikmati setiap proses masa-masa perkuliahan. terasa sekali comfort zone yang dulu sangat-sangat aku rasakan perlahan berubah menjadi comfort zone lainnya yang aku ciptakan sendiri. tidak lain tidak bukan hanya untuk menciptakan suasana AMAN bagi aku yang jauh dari orang tua. dan the real comfort zone-ku adalah KAMARKU. hohohohoho...sungguh tempat yang sempurna untuk melakukan semuanya dan tempat aku menjadi benar-benar aku. dan di kota ini aku menemukan wanitaku yang benar-benar sejatinya tercipta untuk aku.
meski hanya 4 tahun kebersamaan kami, tetapi kisah sempurna kami berempat adalah yang terbaik dari semua kisah yang sudah kami alami. bersama mereka aku belajar menjadi wanita tangguh. tangguh terutama kami sama-sama meranntau, hanya 1 diantara kami yang asli malang. merantau disini benar-benar merantau karena snagat sangat sangat sedikit waktu yang kami miliki untuk bisa pulang kampung.
sedikit karena tugas kami yang masyallah menumpuknya dan banyaknya, bahkan 24 jam sehari saja tidak cukup bagi kami.
sedikit karena kampung kami yang jauh dan malang terlalu asyik untuk kami diami tanpa kami jelajahi semua hal-hal yang asyik itu, sehingga kami benar-benar memilih libur panjang saja untuk pulang kampung karena pasti kami bisa dengan puas menghabiskan waktu liburan kami (meskipun tidak akan pernah puas).
dan yang terkahir, waktu kami sedikit karena kami tidak bisa sembarangan mendapat izin dari orang tua untuk bisa pulang kampung seenaknya. ya alasan orang tua kami, hey! kalian itu disekolahkan jauh-jauh,jangan main-main dengan waktu kalian,gunakan semaksimal mungkin untuk bisa berprestasi di bidang kalian.
dengan semua keterbatasan itu, terciptalah kami, sang wanita tangguh yang akhirnya berhasil lulus dalam waktu 4 tahun secara bersamaan. sungguh mengharukan perjalanan kami dan membanggakan. ya ya meskipun sekarang kami terpisah jauh sangat jauh sangaaaaaaaaaat jauh dalam mewujudkan impian kami.
Ayu Rahmaniyah a.k.a AKU yang awalnya bercita-cita jadi dosen ternyata menemukan rejekiku di bidang pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil di Kota Pasuruan
Wulan Dwi Purnamasari a.k.a BUL yang awalnya bercita-cita bekerja sebagai konsultan ternyata menemukan rejekinya tersendiri, menerima beasiswa S2 double degree
Nanda Indiria a.k.a NDONG yang memang bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil akhirnya berhasil menjadi staff di Kementerian Pekerjaan Umum
Septyas a.k.a DORA yang memang bercita-cita di sektor swasta berhasil menjadi pegawai di Bank Tabungan Negara (BTN)
kami terpisah jauh,bahkan terkadang kami terlalu sibuk dengan dunia kami sehingga sangat sedikit waktu yang kami miliki untuk berkomunikasi. tapi aku yakin kami seakan 4 potongan magnet yang terpisah dan seperti apapun kondisinya kami akan menyatu kembali menjadi sebuah magnet raksasa.
Pasuruan dan Imam Dunia Akhiratku
tahun berikutnya setelah 4 tahun, aku berpindah ke Kota Pasuruan untuk mulai mewujudkan mimpiku di dunia yang benar-benar nyata, BEKERJA. awal aku di kota ini, benar-benar dalam kondisi, aku gak betah !. yang ada di pikiranku "kenapa aku memilih kota ini untuk bekerja ??". tetapi semakin aku menolak, semakin tersiksa yang aku dapatkan dan semakin banyak kejadian buruk yang aku alami. dan di kota inilah aku belajar ikhlas. sampai akhirnya kota ini membentuk aku yang baru, aku yang bisa lebih optimis dan ikhlas dalam menjalani semuanya, tidak seperti dulu yang selalu gelisah dan berpikiran buruk sebelum melakukan sesuatu. dan kegiatan yang aku lalukan untuk melampiaskan kejenuhanku adalah membaca dan menulis blog ini. ya, ini aku anggap sebagai salah satu media meningkatkan ilmuku. dan untuk meningkatkan imanku, alhamdulillah Allah semakin menyayangiku dan aku semakin intens berkomunikasi denganNYA. di kota ini aku benar-benar sendiri dengan semua hal yang aku hadapi, sampai akhirnya aku bertemu dengan maz adi. proses yang kami lalui benar-benar emmmm....benar-benar deh. sampai akhirnya kami sadar, kami ada, kami diciptakan untuk bisa saling menyempurnakan. ini masih tahun-tahun pertamaku di kota ini, dan setiap waktuku aku lewati dengan maz adi, meski bukan hanya waktu-waktu menyenangkan yang dia berikan tetapi waktu-waktu menyedihkan bahkan sangat menyakitkan dia juga berikan padaku. maz adi hebat yah,tapi udah ya maz ga usah lagi tuh yang menyedihkan dan menyakitkan, cukup cukup. sampai aku bingung mau nulis tentang maz adi, mau nulis apa, terlalu banyak unspokken words buat maz adi,huuuhu. yang pasti di kota ini saya juga belajar jadi pegawai yang produktif dan bisa bekerja se-smart mungkin.
mengutip dari blog Billy Boen yang saya baca dan dari tulisan "Khoirunnisa – Universitas Padjadjaran – Januari", perpindahan demi perpindahan hidup saya adalah suatu keharusan jika saya ingin mewujudkan apa yang kita inginkan. seperti ikan salmon. Setiap tahunnya ikan salmon akan berpindah, melawan arus, berenang beratus-ratus kilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Tentu saja perjalanan ini tidak mudah. Ditengah perjalanan pasti banyak ikan yang mati karena kelelahan, tetapi ikan-ikan salmon itu tetap berenang, tetap pindah, apa pun yang terjadi.
"Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah. (Raditya Dika)"

:)
BalasHapus